Olympic Hero : Mia Audina, Young and Dangerous

Ditulis oleh David Junasson  pada 26 Juli 2012

 

Olympic Hero : Mia Audina …Young and Dangerous

s_22d42705

Susah untuk menepis warna bulutangkis dunia yang ditampilkan Mia Audina semasa jayanya. Mia kerap dijuliki child prodigy, anak ajaibnya bulutangkis, penuh magis, ketelitiannya dalam mengolah shuttle cock kerap membuat decak kagum. Kehadirannya melesat bak torpedo yang siap mengobrak abrik kapal2 musuh paling canggih sekalipun. Apa yang membuat Mia bisa sehebat itu di usia belia ?

Mia memang sedari usia 13 sudah di Pelatnas sebagai salah satu pemain pratama yang paling kinclong hampir bersamaan dengan pemain-pemain yang usianya diatas Mia seperti Kristin Yunita yang merupakan Juara Dunia Junior 1992, Cindana Hartono, Meiluawati, Silvia Anggraini serta Ika Heny (anggota tim Uber). Di era Mia terpilih sebagai pemain tunggal di Uber CUp 94, sebenarnya Indonesia juga punya pemain yang betul-betul berpotensi menjadi sangat hebat yakni Yuni Kartika yang muncul di awal 90an , terbukti beliau sempat menumpas habis beberapa pemain China dan bahkan menjadi finalist di salah satu kejuaraan besar saat itu – Malaysia Open. Yuni bahkan sempat mengalahkan Huang Hua dan sungguh diharapkan menjadi pelapis Susi dan Sarwendah yang sangat mendominasi saat itu. Namun kecelakaan ortu Yuni membuat mental dia down dan berakhirlah karirnya.

Pada jaman dulu, manajer tim sepertinya berani memainkan seorang Mia Audina di partai final sekalipun oleh karena kepercayaan diri yang ada pada Mia sendiri. Begitu Mia turun ke lapangan ( sama halnya dengan Susi) , maka kita boleh berharap lebih kepada beliau oleh karena seluruh konsentrasi ,tenaga , dan kemampuan maksimalnya bakal dia kerahkan buat menghabisi lawan di seberang. Ingin melihat betapa kuatnya mental seorang Mia, putar ulanglah cuplikan Mia vs Zhangning di final Uber CUp 94. Kesan cuek, nothing to lose, namun sangat commit terhadap apa yang dia lakukan adalah ciri khas Mia. Menjadi pahlawan di Uber Cup 1994 tak lantas membuat Mia menjadi besar kepala, suka ngeluh, dan umbar janji sana sini tanpa kerja keras. Mia is a badminton superstar yang tahu diri dan terus ingin maju dan belajar. Bagaimana cara Mia meningkatkan permainannya yang waktu itu masih kekurangan power di usia yang masih sangat muda?

PBSI dulu ternyata jeli sekali melihat potensi Mia dengan sering mengirimnya ke berbagai kejuaraan. Berkali-kali seorang Mia harus mati kutu karena kerap dihadapkan oleh seorang pemain jangkung dengan nafsu membunuh tingkat tinggi. Siapa lagi kalau bukan Ye Zhaoying. Adalah Ye yang menjadi “sparring partner” Mia di kejuaraan-kejuaraan Internasional sesudah Uber CUp 94. Bisa dibayangkan seringkali Mia kalah langkah, kalah tenaga, dan kalah jangkauan. Namun dia belajar tanpa rasa takut hingga akhirnya bisa mengalahkan si RAKSASA.

Dalam tempo 2 tahun saja, tunggal ke 3 Uber Cup 94 ini menapak final Olimpiade 1996, pada saat itu performa Susi memang sedikit mulai tersaingi oleh Bang So Hyun yang semakin matang . Susi kalah di semifinal ( sebuah kekalahan yang ditangisi Susi), dan si bocah ajaib yang kala itu berusia 17 tahun lah yang harus melawan Bang. Mia bermain bagus di final itu, penuh reli-reli seru dan pukulan-pukulan tipuan dan gerak langkah ringan khas Mia. Dalam tempo 2 tahun, dia telah memiliki pukulan yang lebih bertenaga, permainan yang lebih bervariasi dan tentunya pengalaman menghadapi tekanan-tekanan hebat. Namun sayangnya itu belum cukup, karena Bang Soo Hyun memang sedang onfire. Mia memang belum pernah menang dari Bang sebelumnya, dan pada hari itu Bang mempertegas superioritasnya atas Mia dan meraih emas.

Perjalanan karir Mia di bulutangkis adalah perjalanan panjang berliku. Walau sempat menurun karena masalah perpindahannya ke Belanda , Mia selalu menjadi “The Crowd Favorite”. Menjelang Olimpiade 2004, Mia sontak kembali menjadi ancaman bagi tunggal putri manapun di dunia. Seorang Pi Hongyan yang merupakan salah satu pemain top saat itu sempat berujar bahwa dia belum pernah bertemu dengan seorang pemain sedetail Mia dengan tingkat keakuratan meletakkan bola yang nyaris sempurna. Mia seperti mendapatkan momentum kedua pada tahun itu yang membuat kubu China ketar ketir oleh kebangkitannya.

Athena, 20 Agustus 2004, Mia kembali menapak final Olimpiade untuk kedua kalinya.
Saat itu Ia bertemu musuh lama yang dia permalukan di Uber CUp 10 tahun lalu, Zhang Ning. Kesuksesan Mia kembali ke final Olimpiade setelah delapan tahun , sungguh merupakan pencapaian yang luar biasa. Delapan tahun adalah waktu yang tidak sebentar, telah banyak lawannya yang datang dan pergi, namun Mia masih bertahan. Pertandingan itu sendiri dimenangkan oleh Zhang Ning lewat pertarungan seru yang tercermin dari skornya 8-11 11-6 11-7. Perak kedua dari Mia .

Patut diingat bahwa beberapa saat usai Olimpiade Mia langsung menjadi pemain nomor 1 dunia. Namun kekalahan di Olimpiade kali ini sungguh membuat Mia kecewa , sehingga dia seperti kehilangan passion terhadap pertandingan bulutangkis.

Mia Audina , adalah pemain yang pantas diingat tidak saja oleh kehebatannya di usia yang sangat belia, tidak juga hanya oleh pukulan-pukulan overheadnya yang sangat mematikan langkah lawan, tetapi karena kemampuannya memaksimalkan diri sebagai manusia yang memiliki sifat tak kenal takutnya terhadap tantangan-tantangan berat dan tentunya oleh karena mental sebagai atlet besar yang telah didemonstrasikan sedari awal sinarnya menerangi bulutangkis Indonesia. We miss u Mia!

source https://www.facebook.com/groups/buldoc/permalink/10151121434640928/

Yudha Chaniago Pada tahun 1993 mia masuk pemusatan latihan nasional dan mulai mengikuti berbagai kejuaraan internasional seperti Malaysia, China, Thailand, Hongkong hingga All England meski akhirnya sering kandas di babak awal. Pada tahun 1994 saat usia 14 tahun mia dipercaya masuk menjadi skuad team uber Indonesia setelah menyisihkan Minarti Timur. Dan namanya pun masuk dalam rekor MURI sebagai skuad uber termuda.

Ferry Kinalsal Mia memulai bulutangkis di Bogor. Kakaknya Egana Tjiptawan saat ini menjadi pelatih privat bulutangkis di Bogor dan sekitarnya. Dan papanya juga menjadi salah seorang yang melatih Mia.

Yudha Chaniago  Mia sang pahlawan uber 1994

Dipimpin oleh Susi Susanti, indonesia mampu bermain luar biasa saat mampu mencuri 2 poin terlebih dahulu melalui susi dan lili tampi/firnarsih. Sayang Indonesia gagal di 2 partai berikutnya ketika yuliani santosa takluk dari han jingna dan eliza/zelin yang menyerah dari ge fei/gu jun. Pertandingan pun berlanjut ke partai ke 5 yang menyajikan laga Mia Audina vs Zhang Ning

Mungkin publik saat itu berpikir bagaimana bisa Indonesia bertumpu pada seorang gadis remaja 14 tahun. Namun yang terjadi dilapangan justru sebaliknya dimana mia mulai menunjukan keajaibannya.Tampil brilliant mia sukses membuat zhang ning mati langkah dengan bola kedut mia yang sulit ditebak mia pun menuntaskan pertandingan melalui drama rubber set 11-7 10-12 11-4. Indonesia pun sukses menjadi Negara pertama yang mengawinkan Thomas dan Uber Cup

Putri Luzeri om fer ternyata masuk grup dchanel, hhaha
Zulfa Nikmah om fer mungkin gak tahu uni,kalo ini atas nama grup,haha
sekalian menambhkan,
***
Putri Luzeri gw suka video mia vs zhang ning :8
Mìss Favorìt Km pny, put? tag gw dunk..
Zulfa Nikmah Bjunya jadul bgt,tp permainannya kueren,
Yudha Chaniago Kalo inget olimpiade 2004 pasti akan teringat lagi insiden zhou mi yang mengalah dari zhang ning atas intruksi li yongbo karena menilai zhang ning lebih siap ketimbang zhou mi. *(pembunuhan prestasi atlit, bukan mianya tp zhou mi nya)

Mìss Favorìt Barangkali ada yg punya donlotannya.. males donlot soale.. :-):-)

Kaosnya keknya kegedean dikit ya…

Jarak lapangan sm penontonya deket banget..

Gitya Dina Herawaty-Chai jd inget pas mia disorakin oleh penonton wkt main Ina open
Kapriski Wiyanto pokoknya paling suka sama gaya dengkeknya…
Yudha Chaniago ‎Gitya Dina Herawaty, yang disorakin pengkhianat itu bukan ?
Gitya Dina Herawaty-Chai gw jg wkt itu sebel jg sih sm mia. Maklum msh ababil
***
Yudha Chaniago <— masih terlalu kecil saat final uber cup 1994 saat mia jadi pahlawan.. Jadi gak ada bayangan sama sekali yang ada pada saat itu gw sukses tidurr saat alm ayah dan ibu nonton siarannya 😀
Ikhsan Asy’ari Inget bgt pas final uber 94 gw lg belajar buat ulangan biologi :p
Gitya Dina Herawaty-Chai icaaan, thn 94 emg umur loe brp?
Yudha Chaniago Plakkkkkkkkk #soktua lu chan… wkwkw
Koje Sj Waktu Final Uber 94, gw baru belajar jalan…
Ikerina Mayopu Ichan dah tua baget ternyata
Ilham Fauzi haha,,final uber cup,,gw lulus ujian masuk SD,,horeee
Arsandi Deni keknya ican nyinggung bang yud deh wkwkwkkkkk
felling aja

Ikhsan Asy’ari Wkwkwk..abis bnyk yg sok2 muda..gw mau jd trendsetter yg sok2 tua 😀

btw mbak mia keren bgt..haha matrix

Afri Anto final uber 1994, kyknya lagi ngerjain PR Berhitung
Gitya Dina Herawaty-Chai pas final uber 94 gw main barbie
Kiki Nurwijayanti Waktu final Uber 1994,
masih teringat jelas dalam kenanganku waktu kami berada di podium tertinggi.
<< mia
Malvin Prayoga Pas uber 94, masih di sorga, belum dikirim Tuhan ke bumi. Hahahah..
Umi Greysholic uber cub 94 baru umur 2 tahun. boro2 tau bultang, ingus sendiri aja blm bisa ngelap sendere.:p
Prima Febe Taun 94 aq tau2nya tu coz wktu tu org tua q msh aktif main badminton……ckckck
***

Craven Jorgensen 

Pemain dgn bakat alam spt Mia emang langka bgt.. di usia belia 14 thn udah masuk tim inti dan menanggung beban yang sangat tidak ringan yaitu menjadi penentu kemenangan/kekelahan dan disaksikan ribuan suporter tuan rumah yg pastinya menambah beban.. Tp mental Mia emang jempolan, tekniknya luar biasa, dgn tubuh yg mungil mampu mengcover lapangan dgn baik… kapan lagi ya ada pemain usia 14 thn yg mampu masuk tim inti Uber Cup Indonesia..
Arsandi Deni eh saat itu zhang Ning usia berapa ya?
Afri Anto ‎19
Ilham Fauzi ih deni,,ikutin ramon terus,,,ramon komen disini ngikut,,disana ngikut
*curiga
Arsandi Deni ow gitu kang afri,,,thankz”
*abaikan ilham,,,
Koje Sj Hahaha Ilham… *masukin Ilham ke karung
Ilham Fauzi masukin eko kekarung yg sama
*hayo loh,,
Craven Jorgensen ‎*buang karung tsb ke laut pake pemberat 5 ton, biar dua makhluk itu tenggelam..
Koje Sj Kala dua makhluk ini tenggelam Mon, ntar lu nyesel, bakalan merindukan salah satu dari kami! Hahahaha *tertawa puas*
Ilham Fauzi menghilang..menghilang…
*pake jurus menghilang stephen chow,,


Iklan

“Pelatih Lebih Tau”

Sepekan ini Para atlit bulutangkis Indonesia sedang berjuang di 3 Tournament sekaligus, Mulai dari World Junior Championship di Peru untuk pemain Under 19, Malaysia International Challenge untuk pemain pelapis, dan China Open Superseries Premiere untuk pemain senior, maklum tournament kelas 2 di bawah World Championship.

Hasilnya, di Peru sendiri untuk beregu Indonesia meraih perak, setelah kalah 0-3 dari Tiongkok, dan di perorangan yang hari ini memasuki Quarter Final hanya tersisa 3 dari belasan wakil. Di Malaysia IC lumayan banyak, maklum pesaing cuma pemain level 2/3 Thailand, Tuan rumah, Taipe, dan Singapura, China?? mungkin bukan kelas mereka. Dan tentunya yang paling parah di China Open Superseries Premiere, nama-nama seperti Ahsan/Hendra, Tontowi/Lilyana, Greysia/Nitya yang jadi andalan sudah pulang hari kemarin, yang mengejutkan tentu Tontowi/Lilyana yang kalah dari pasangan Jerman dua set langsung di pertandingan perdana. Dan hari ini hanya menyisakan satu wakil yaitu Praven/Debby di 8 besar. Cuma satu?? Bukannya sudah biasa??

Tentu ini menjadi bagian kesedihan yang semakin mendalam untuk mereka yang menamakan dirinya Badminton Lovers apalagi mereka yang kalah itu adalah harapan Indonesia di Olimpiade Brazil tahun depan.
Kesedihan paling vokal yang di sampaikan oleh BL atas kekalahan di tournament2 tersebut adalah sebagai berikut :

1. Waktu beregu vs China di Peru, Indonesia salah pasang pemain, dan yang di salahkan adalah PELATIH
2. Waktu pemain di China Superseries Premiere kalah berjamaah, dan tersisa 1, ini karena pemain tidak ada yang main rangkap, keinginan BL adalah yang main ganda putra, main juga di ganda campuran, begitu juga yang putri. ini memberikan maksud kalau satu nomor si A kalah, masih ada nomor lainnya. Tentu saja ini atas dasar capaian pemain lawan seperti China ( Zhang Nan, Yunlei, Yixin,dkk ), Korea ( Ko Sung H, Kim Ha N, Yoo YS, dkk ), Denmark ( Juhl, Pedersen ) yang sangat baik prestasinya walaupun bermain rangkap.

Ketika BL berusaha menyuarakan agar pemain idola mereka bermain rangkap, ternyata impian mereka gagal terkabul, apalagi ada jawaban yang tahu atlit itu ya pelatihnya. ( read : PELATIH LEBIH TAHU ).
Kemarin, sempat ada berita bahwa PBSI akan mencoba menciptakan program pemain bermain rangkap, yang ganda putri dan putra bisa berpasangan di ganda campuran. Namun ada kalimat dari berita tersebut yang cukup banyak di bahas oleh para BL, yaitu kalimat om Rexy yang mengatakan: “kami akan coba beri pemahaman ke pemain” PLAKK!!! Jadi yang tidak mau rangkap pemainnya ya? Saya tidak tahu, kalau dari kalimat itu sepertinya iya.

Dan mohon maaf para BL sepertinya saya cukup setuju dengan Om Rexy kali ini. Sepertinya memang PELATIH LEBIH TAHU segalanya, saya pikir pelatih mungkin sudah lama ingin membuat rangkap pemain, bisa jadi memang ada pemain yang tidak mau. Ok pikir masing masing bagian ini. Intinya Pelatih bisa saja benar 90% kali ini.

Kasus kedua adalah pengiriman pemain, banyak muncul pertanyaan kenapa yang Junior Indonesia, lebih sering di kirimkan ke tournament-tournament level menengah ke bawah tidak seperti junior Jepang, China, dan Korea yg berani kirim ke tournament menengah ke atas? Sekarang sebagai review boleh lah kita lihat berapa gelar Superseries , Grandprix Gold, Grandprix, dan International Challenge / Series ( sudah saya urutkan dari yg paling tinggi ) dan kalian sudah tebak hasilnya di tour GP lah kita mampu berbicara, ke atasnya masih ada yang hanya menjadi penghias draw, langganan R1, dan langganan kualifikasi, kemudian kalian dan saya beramai ramai mengatakan mereka MENTOK. Tentu saja untuk kasus ini PELATIH LEBIH TAHU lagi.

Dan saya kembali setuju dengan judul tersebut, mau tidak mau karena saya sering melatih, sering banget. Walaupun bukan bulutangkis tapi Vokal Grup. Ternyata ada hubungannya setelah saya analisa berhari hari ini, tidak selamanya yang kita latih itu juara, tidak selamanya juga kalah.
Pelatih tentu lebih tau lah sampai dimana batas kemampuan anak didiknya ( cailee pak pelatih ), kapasitas mereka, sanggup atau tidak ambil resiko paling sulit, kalau di bulutangkis mungkin ada yang di ungkapkan tadi menolak bermain rangkap dengan alasan takut stamina tidak kuat, nah di Vokal Grup ada juga tuh yang dikasih aransemen dan pecah suara sampai 5 -7 nada tidak sanggup, atau yang solo dikasih improvisasi yang bagus, bilang tidak bisa, akhirnya semuanya tidak dipakai padahal pelatih sudah coba kasih, dan akhirnya pilihan pelatih adalah memaksimalkan yang ada. Hasil akhir tergantung si pemain lagi, pelatih tidak mungkin membiarkan kamu tampil hancur.

Untuk kasus pilih-pilih lomba juga iya, pelatih itu punya tuntutan agar yang mereka latih bisa juara, juara di mana? Dulu saya punya teman sering ikut festival solo di Pekan gawai Dayak tingkat Provinsi, tapi tidak tahu sekarang dimana, waktu tempo dulu beliau ini gagal juara bahkan mencicipi level Final pun tidak, Beliau nangis, kemudian salah seorang finalis dan juara yang sudah senior banget ngomong begini : “Mental di asah dek, ikut lomba coba ikut karaoke di gang-gang dulu”, dan ada lagi yang nangis ini teman sangat dekat, kalau sudah kalah bisa nangis berjam-jam. Suara bagus banget, tapi yang ini beda sepertinya dia berusaha menambah jam terbangnya, ikut Band, ikut paduan suara, nyanyi di TV, dan akhirnya festival yang dulu cewek ini sering kalah, berhasil di menangkannya, naik level dan semakin naik level. Orang pun jadi mengakui peningkatan kapasitas kita.

Kembali lagi pada PELATIH LEBIH TAHU, sekali lagi saya setuju, apalagi ngelatih orang yang susah diatur, kemampuan biasa saja, kita benar benar harus extra kerja keras bahkan lebih dari mereka. Apalagi menangani yang katanya bakat luar biasa, ada titik biasanya mereka akan merasa “gue lebih baik”, bahkan dari pelatih, setiap diberi masukan belum tentu dipakai.

Singkat cerita, PELATIH LEBIH TAHU kapasitas dan kemampuan orang yang di tanganinya.

by: Sabath Junivar

Buldoc 6th Anniversary Trip to Dieng

IMG_9695[1]
Seperti di tahun-tahun sebelumnya, kami selalu mengusahakan untuk merayakan hari jadi group tercinta ini sebisa mungkin, tidak ada perayaan yang istimewa sebetulnya, hanya kumpul-kumpul biasa. Jika Tahun kemarin kami merayakan di Jogja, dan tahun ini Dieng (Jawa Tengah) terpilih menjadi destinasi kami.
Meeting point sebelum ke Dieng adalah Stasiun Purwokerto, kami berangkat dari kota kami masing-masing untuk menuju ke stasiun Purwokerto, ada yang sudah berangkat dari Jumat 23 Oktober 2015 malam, ada juga yang berangkat Sabtu pagi. Jam 11 kami berkumpul sebelum melanjutkan perjalanan ke Wonosobo. Total ada 17 orang.
Sampai di Banjarnegara mobil kami terpaksa harus dibelokkan ke salah satu tempat wisata yang sebenarnya tidak ada dalam itinerary list kami, namun karena ada razia dan sementara sopir kami tidak membawa SIM B maka kami pun mengikuti si sopir untuk menunggu sekitar 1 jam hingga jam razia berakhir.
Perjalanan dilanjutkan ke dataran tinggi Dieng, mobil kami sempat mogok dua kali karena tidak bisa nanjak, mungkin karena overload, hehe..Tiba di daerah Dieng kami kelaparan dan kami memutuskan untuk mengisi perut kami terlebih dahulu sebelum istirahat di Homestay.

IMG_9603[1]
Sebagai pecinta bulu tangkis sejati, kami tetap menonton pertandingan semifinal French Super Series 2015 via streaming di handphone yang pada saat itu Ahsan/Hendra dan Greysia/Nitya tengah bertanding melawan lawannya masing-masing.
Pukul 03.00 pagi kami sudah berangkat dari Homestay menuju puncak bukit Sikunir yang menjadi tujuan utama kami. Lagi-lagi mobil “Doa Ibu” mogok sebanyak dua kali. Selanjutnya kami harus trekking selama kurang lebih 40 menit untuk menikmati Golden Sunrise di puncak Sikunir. IMG_9679[1]

IMG_9858
Turun dari Sikunir kami kembali ke Homestay untuk packing dan melanjutkan mengunjungi beberapa tempat wisata seperti Kawah Sikidang, Candi Arjuna, dan Telaga Warna. Selanjutnya kami menikmati salah satu kuliner yang paling terkenal di Wonosobo, yaitu mie Ongklok Longkrang. Setelah makan siang kami pun harus kembali menuju Terminal dan stasiun Purwokerto untuk kembali ke tempat tinggal kami.
Masih belum puas sebenarnya liburan singkat bersama teman-teman Buldoc, tapi apa daya waktu dan aktifitas pribadi yang harus menghentikan kami. Semoga di tahun-tahun selanjutnya kita tetap bisa berkumpul ya kawan!
Beberapa testimonial teman-teman yang ikut trip ke Dieng

Umi:
“Selamat ulang tahun Buldoc yang ke 6, tak banyak yang bisa terucap dari mulutku selain rasa syukur telah dipertemukan dengan orang-orang hebat seperti kalian lewat bulutangkis.
6 tahun bukan waktu yang sebentar bagi ku, maka yang bertahan akan melanjutkan persahabatan dan yang menghilang hanya akan di kenang.
Dieng? Itu adalah tempat yang luar biasa. Ada hati yang tertinggal disana. Kebersamaan dan kekeluargaan. Buldoc, we are one we are family”

Kiki:
“Hampir 5 tahun bersama buldoc, 5 tahun yang penuh suka cita. Walaupun awal-awal suka berantem dengan member lain,*huaaaaa maaf ya* tapi tetap sayang sama Buldoc. Walaupun yang lain satu per satu meninggalkan Buldoc,tapi aku akan tetap tinggal.
Kemarin bersama yang lain kami merayakan ulang tahun Buldoc yang ke 6 di bukit Sikunir Dieng. Satu kata tentang Dieng “Dingin”,tapi ada buldoc bersamaku yang mengubah dingin menjadi hangat”

Ishaq:
“Buldoc itu fenomenal. Selalu ada drama di setiap kisah. Nyata. Namun di situlah letak seninya. Penuh sensasi yang sarat makna. Dan itu pula lah yg terukir di momen Buldoc Goes to Dieng. Banyak cerita suka, juga duka yg bermetamorfosis jadi bahagia. Keceriaan kerap wujud di setiap menit dan lokasi. Lebur bersama keindahan maha karya Tuhan yg terlukis di jajaran Dataran Tinggi Dieng. Sempurna.”

Alfin Ardana:
“Liburan kemaren udah aku tunggu-tunggu banget sejak jauh-jauh hari. Walopun sebelumnya sempat ragu mau ikutan atau gak karena ada beberapa hal, bahkan sempat udah woro-woro kalo batal ikut, akhirnya satu minggu sebelum keberangkatan aku memantapkan diri untuk ikut aja liburan ke Dieng. Walaupun musti cuti sehari ga masuk kerja, trus pantat pegel gara-gara duduk 9 jam di kereta tapi ga nyesel deh ikutan liburan bersama temen-temen Buldoc.
Sempet ga enak juga sih ama rombongan jakarta gara-gara nungguin lama (eh Ichan ama Willy juga nungguin lama paginya wkwkwk) soalnya pagi harinya ada beberapa orang yang wisata ke Baturraden dulu. Di Baturraden ini juga rombongan kloter pertama juga mengalami musibah yang kalo diinget-inget bikin merinding dan bersyukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa karena masih diberi keselamatan. Angkot sewaan kami ga kuat naik tanjakan booook… Mundur sampe nabrak tebing pembatas. Duuuuh deg-degan. Soalnya dibawah itu ada jembatan plus jurang.
Oklah back to topic. Selepas dari Baturraden langsung deh cuzzz berangkat ke Dieng barengan kloter kedua. Perjalanan ke Dieng ternyata makan waktu lama. Kata Agoes cuma 3 jam, ga taunya waktu rombongan Buldoc kesana bisa sampe 5 jam. Banyak kendalanya siiih -___-
Kesanku selama ke dieng kemaren, pertama nambah temen baru. Soalnya ada beberapa peserta yang aku belum kenal dekat wkwkwkkkwk. Makanya sempet kayak sungkan gitu mo ngobrol. Tapi setelah melakukan pendekatan *halah* via game-game n nobar bareng di homestay rasa sungkan itu perlahan luntur karena keakraban kita. Apalagi pas nobar. Musti streamingan pake 2 hape. Namanya streamingan kan pake paket data ya. Sempet saingan cepet2an streamingnya tapi itu yang bikin seruuuu wwkwkwkwk. Rasa sungkan jadi ilang gitu.
Apalagi pas daki Sikunir. Beeeeh kekompakan buldoc diuji disini. Dimulai gara-gara ada beberapa teman yang ketinggalan mobil karena mobil ga kuat naek tanjakan. Sampe saling bantu membantu saat mendaki puncak sikunir.
Sampe puncak Sikunir pada banci poto semua deh kwkwkkwwk… Poto masing2, poto bareng, dimulai ala2 sok cool sampe ala2 anak alay wkwkwkwkk
Lanjut… Aniway gara-gara insiden di Baturraden jadi trauma gitu kalo mobilnya ga kuat naik di tanjakan. Dan hal itu terjadi berulang-ulang saat dalam perjalan menuju Sikunir. Sorry kalo aku bersisik teriak-teriak mulu. Maklum masih parno.
Aaaah pokoknya liburan kemaren seruuu deh… Udah lama pengen banget ke Dieng. Walaupun abis dari dieng tumit pada pegel, trus tulang ekor jadi sakit banget berhari-hari gara-gara duduk hampir 15 jam. Tapi bisa nambah pngalaman baru plus teman baru…. Thanks ya buldoc.”

Willy:
“Trauma setiap kali disetirin saat perpindahan gigi 1 dan 2, trauma naik kereta karena di PHP orang. Jadinya sendiri naik kereta ekonomi Purwokerto-Bandung selama 13 jam. #trims 😥 “

Fuad:
“Buldoc is Amazing. Dieng is Wonderful”

Eka & Jarwo:
“Perjalanan ke dieng ini berkesan banget buat kami (baca: aku dan suami >.<), baru kali ini jalan-jalannya lama di jalan, hahaha .. tapi terbayar lah pas sampe tempat tujuan. Drama banget deh pokoknya dari “Doa Ibu” ini. Dari yang cerita ga punya sim B sampe muter-muter ala tourguide padahal pantat udah tepos .. wkwkwk .. Tapi masih beruntung lah kami dapat tempat duduk yang paling enak ( dibanding Jeny ato boss shept ) .. hehehe ..Ultah Buldoc kali ini berasa ada yang kurang, ga ada kue ultah nya niiihh .. hehehe .. tapi salut buat kawan-kawan Buldoc tetep kompak n selalu bisa saling toleransi .. keep being nice n keep cooooolll … :*
Semoga tahun depan bisa tiup lilin bareng-bareng lagi yaaaah” 

Afri:
“Overall perjalanannya menyenangkan. Meskipun masih ada beberapa kekurangan dari segi transportasi, semuanya tertutupi dengan suasana kekeluargaan yang tercipta. Seperti temu kangen lagi dengan teman-teman yang sudah lama tidak bertemu.
Untung gw kadang minggu maen badminton, jadi fisik masih lumayan kuat untuk ngedaki bukit sikunir (one of the best sunrise in my life). Dinginnya serasa balik ke Eropa. LOL.
Anyway, makasih bos Septiani yang udah ngajakin saya di last minute (akibatnya beda gerbong sendiri, curcol). Mas Agoes yg nyusun acara sebagai panitia lokal. Mas Restu yg udah membawa kita ke mana2. Dan tentunya anak-anak Buldoc yang lain. We’re family. Ditunggu jalan2 berikutnya!”

Septiani Lay:
“Kami sudah merencanakan trip ini dari sebulan sebelum keberangkatan untuk ultah Buldoc yang ke 6 ini, respon awal cukup menggembirakan, banyak yang excited, dari sekitar 23 orang pendaftar akhirnya mendekati hari H beberapa mundur, tinggal lah 17 orang yang fix ikut. Sempat kecewa, tapi ya sudah lah, show must go on. Tiket sudah dibeli, homestay sudah dipesan, mobil sudah di DP.
Mengesankan karena kami semua ngumpul di satu homestay dan satu mobil tanpa terpisah. Kalau pengalaman pribadi ini pertama kali dalam sejarah saya hiking, sempat ‘engap’ dan pengen nyerah di tengah perjalanan rasanya. Belum lagi gak bisa tidur karena kedinginan, haha.. Tapi semua itu terbayar dengan keindahan alam dan kebersamaan bersama teman-teman Buldoc.
Semoga kebersamaan ini tidak berakhir sampai disini. Next trip harus lebih ramai and we have to #comebackstronger 😀

Buldoc 6th (Always on)

IMG_9718IMG_9733IMG_9736
Huaaa.. tidak terasa ya Buldoc sudah berulang tahun yang ke 6, bangga, ga nyangka, dan masih exist! Banyak memori-memori yang sulit untuk dilupakan bersama teman teman Buldoc.

Buldoc’s History
Sebelumnya perkenalkan dulu saya adalah creator (cieee :D) dari group facebook Buldoc. Selain itu secara otomatis saya juga menjadi salah satu admin di group terkece seantero jagad ini.
Oh ya bagi yang belum tahu, Buldoc adalah singkatan dari Bulutangkis dotcom, yaitu group facebook yang isinya orang-orang penggila bulutangkis atau dengan kata lain setengah waras, haha.. kidding. Awal mulanya Buldoc saya create hanya sebagai salah satu sarana silaturahmi para ‘fordiser’ di web http://www.bulutangkis.com. Siapa sih para pecinta bulutangkis dunia maya yang tidak tahu tentang web ini? Bahkan atlet-atlet pun saya rasa sudah banyak yang tahu mengenai web ini. Web ini sudah exist duluan jauh sebelum adanya website-website khusus bulutangkis bermunculan bahkan yang paling ngetop sekarang seperti twitter maupun facebook mengenai bulutangkis pun masih belum ada.

Awal mula saya kenal website tersebut adalah pada suatu hari secara tidak sengaja saya sedang mencari informasi hasil turnamen melalui mbah google, akhirnya saya ketemu dengan web http://www.bulutangkis.com. Awalnya saya hanya berani menjadi silent reader dengan membaca postingan teman-teman atau komen-komen di forum diskusi. Suatu hari saya tergerak untuk membuat user ID.
Dari diskusi serius sampai yang OOT parah itulah saya mulai kenal dan sering menyapa beberapa user ID seperti @kanni, @alvons, @t_hilang, @chi_put, @dvd dan masih banyak lagi. Kemudian muncul ide dari salah satu member disana yang mengusulkan untuk membuat sebuah group facebook agar kita bisa mengenal satu sama lain. Tepat tanggal 23 Oktober 2009 Itulah awal mula group ini dibentuk. Trims om Ferry Kinalsal sebagai pengelola portal yang telah mempersatukan kami.
Sugeng Santoso

Selamat ulang tahun yang ke-6 Buldoc tercinta.
Semoga makin rame, makin kompak, makin rukun, dan tetap di garda terdepan dalam mendukung atlet-atlet Indonesia

Se… Ma… Ngat…!!
Semangat!! Yeaaahhhh…. (yel2 tahun berapa ini yak? Haha…)

Monggo teman-teman yang mau ucapin doa, selamat, dan harapan buat Buldoc…
Mau sharing suka duka selama di Buldoc? Mangga…
Asal jangan curhat masalah pribadi ya, Curhat to 3 Janda udah gak ada. Hostnya udah sibuk bersolo karir

Bogiiieeee…
Dimana kamu?

Afri Anto Selaamat ulang tahun. Maligayang bati. Gelukkig verjaardag.
Semoga sukses selalu dalam cita dalam cinta yang suci, terengkuh segalanya, keinginan di dunia.

Nanang Kurniawan selamarcia ulang-aling tahurus buldok…. semoga apdet skor nya tetep rame, meskipun semakin dikit yg komen… lope2  Im Yoon Ah  buldok

Pangeran Muh Soddicq selamat ulang tahun. cuman satu keinginanku, jgn ada asap kebakaran lagi untuk kedepannya. amiin #digebukin

Zayn Mubarak Ar Arafah selamat selamat.. saengil chukka

Jessica Alfa Tessarani Perasaan baru kmrn ngerayain Birthdaynya Buldoc di Jogjess (O̷̴̷̴̯̐ .̮ O̷̴̷̴̯̐) ehh, hari ini uda ganti usia lagi..time run so fast (˘̩̩⌣˘̩̩) Happy Birthday Group Kebanggaan! (ʃƪ˘˘ﻬ)~ semoga langgeng & awet ya (Persaudaraannya) (´⌣`ʃƪ)

Raijin Thunderkeg Ah, ga berasa ya… Berasa makin tua jadinya

Akmal Aksa Talitti Selamarcia buldoc… Jayalah selalu…
Akar Ilnur Kiyora hbd buldoc…semoga bisa terus mempersatukan kita semua dengan semangat dan cinta kasih…amin

Umi Saidatun Nisa Hbd buldoc smg kalo gw komen gak dicuekin jadinya gw nya gak males komen lg wkwkwk

Sukses !
Putri Luzeri Ehem, terima kasih kakag sugeng dan temen2 sekalian atas doa2nya, tanpa kalian semua Buldoc bukanlah apa2. Selama 6 tahun kita bersama dari yang smp/sma sekarang kuliah, yang kuliah sekarang sudah kerja, yang blom merit sekarang sudah merit, yang blom punya anak sekarang punya anak, dari yang punya anak 2 sekarang punya anak 4, dari yg tubil sekarang makin tubil dan seterus. Intinya kita makin dewasa dan makin banyak tanggung jawab. Kami menyadari saat ini Buldoc gak seperti dahulu. Tapi selama masih ada yg setia bersama Buldoc, Buldoc tetep selalu ada buat kalian.

Mohon maaf atas segala kekurangan kami.

PS: Bogie ilang, kalo ada yang punya kloningannya tolong kasih tau ya.

Ilham Fauzi Selamat ulang tahun, Doc.. bah gak berasa udah 6 tahun ajee.. sakses selaluuu.

Opick Piko seLamat uLtah yaah Buldoc… misssyyuuuuuu

Choleevh Santoso selamat hari jadi buldoc ,,,, setahun lebih disini ,,,, suksesss !!!!!!!

Rizki Septa Hardhita hbd buldoc

Zakiyun Nufus Semlamat ulang tahun Buldoc yg tercinta.. Moga Buldoc selalu menjadi panutan bagi FP Bulutangkis lainnya..


Ronisafar Takiahu hbd buldoc..jayalah selalu…

Eka Herawati Hbd buldoocc … semoga tetap rukun dan smakin kreatif .. kiss emoticon
Missyuu ..

Ikhsan Asy’ari Hepi birthday buldoc. Gak kerasa udah 6 tahun aja

Kiki Nurwijayanti Happy Buldoc day….. semoga langgeng terus, rame lagi kaya dulu, tetep lucu, semoga membernya selalu istiqomah mendukung bulutangkis….

Aku dan Buldoc (Part 2)

4. Donat yang Sudah Menyelamatkanku dari Ancaman Kelaparan

by Eko Sijabat

io2012

Aku kenal kawan ini pas turnamen Indonesia Open 2012 dua tahun lalu. Kami bertemu di Istora, di tengah ribuan beel dari seluruh nusantara. Ada yang pipinya digambar bendera, ada yang berlari-lari mengejar atlet buat foto bareng, ada yang terlihat murung setelah ditolak atlet idolanya, bahkan ada yang sibuk berdebat menentukan mau menonton di depan lapangan 2 atau lapangan 4. Seru sekali!
Aku bersama kawan ini selama beberapa hari: sepanjang perhelatan Indonesia Open. Pulang malam ke kota sebelah karena pertandingan yang selesai larut sekali, makan soto ayam hangat tengah malam karena lapar, tidur bareng hanya beberapa jam, kemudian bangun pagi-pagi karena tak mau ketinggalan pertandingan sang atet idola.
Indonesia Open selesai: hal yang membuat setidaknya ribuan beel galau. Hari itu kami berpisah.Dia pulang ke kotanya, dan aku kembali ke rumah kakak.

Dua tahun kemudian, Februari lalu, aku mengunjungi kotanya. Kebetulan juga kakakku yang lain tinggal di kotanya. Kami bertemu: apalagi yang kami lakukan selain mabar? Haha. Di hari berikutnya kami bertemu dengan seorang teman Buldoc yang lain, makan, berkeliaran di mall, nongkrong-nongkrong lucu di cafe hanya dengan memesan minuman ringan, main ke pantai, makan di warung yang terapung di laut, dan tak lupa foto-foto.

Kembali kami harus berpisah. Kali ini aku yang harus pergi ke tempat pekerjaan baruku, tempat yang cukup jauh dari hiruk-pikuk ibu kota. Aku mengemasi barang-barangku begitu sampai di rumah kakak. Sejam kemudian, aku sudah berada di dalam mobil menuju bandara. Kawanku itu menelepon.

“Kau nanti berhenti dulu di depan mall itu, ya. Nggak lama kok.”
Beberapa menit kemudian, aku melihat kawanku berdiri di pinggir jalan, di depan mall tempat kami janjian. Aku turun segera, tertawa. Si kawan juga tertawa.

“Ini, kau bawa ini buat bekalmu.” Si kawan menyerahkan sekotak donat dan dua kaos baru. Aku menatapnya, bilang terima kasih, dan berpamitan untuk kesekian kalinya. Aku terharu sekali. Aku mengenalnya dua tahun lalu dan hanya bertemu dalam beberapa hari, dan rasanya sudah seperti kawan lama.

Pesawatku transit di Jakarta.Aku menunggu penerbangan berikutnya ke kota yang kutuju, dijadwalkan pukul 02.00 pagi hari. Malam itu aku duduk selonjoran di koridor terminal. Tidak banyak orang yang lalu-lalang, sudah jam 23.00. Aku termenung, banyak hal yang terpikirkan dan membuat galau, kebanyakan tentang keluarga. Ternyata kebanyakan mikir bikin lapar. Tidak ada yang lebih kusyukuri malam itu dari pada sekotak donat pemberian kawan Budocku itu. Aku tersenyum. Kuhantam beberapa biji donat yang dari aromanya saja bisa bikin perut keroncongan. Ah, kau tahu memang yang kubutuhkan, kawan! Aku masuk ke dalam pesawat beberapa menit sebelum lepas landas, dengan perut kenyang, dengan ucapan syukur.

Kawan, donat yang kau kasih sudah menyelamatkanku dari ancaman kelaparan. Terima kasih.
Omong-omong, kaos darimu masih awet, sering kupakai juga. Enak dipakai soalnya!
Sampai berjumpa lain kali! Semoga kau selalu diberkati!

5. Maju-Mundur, Maju-Mundur: Cantik!

by Putra Idris

Ketika mendapatkan kesempatan belajar Bahasa Inggris di Jakarta beberapa tahun yang lalu, aku sempat bingung dan khawatir karena belum pernah ke Jakarta sebelumnya. Tidak ada teman dan sanak keluarga membuat kegelisahanku semakin menjadi-jadi. Waktu itu, aku baru beberapa bulan bergabung dengan forum Buldoc dan belum kenal satu pun member yang lain di dunia nyata. Canda dan tawa kerap menghiasi forum ini lewat komentar yang kocak dari para member. Hal itulah yang kemudian membuatku berani untuk bertanya tentang Jakarta dan alamat kos-an yang dekat dengan tempat kursusku. Sambutan yang kuterima luar biasa ramah dan penuh kehangatan. Bahkan salah satu member menawarkan apartemennya untuk tempatku menginap di minggu pertama sebelum menemukan kos-an.
Sesampaiku di Jakarta, ketika hendak bermain bulutangkis, beberapa teman di forum Buldoc mengajakku bermain bersama mereka. Bahkan mereka mau menjemputku. Jujur, aku sangat terharu waktu itu dengan keramahan dan kebaikan hati para anggota di forum ini. Meskipun baru datang dan belum mengenal siapa pun, aku sangat merasa nyaman ketika berkumpul bersama mereka pada saat bermain bulutangkis atau pun sesudahnya. Canda dan tawa menghiasi momen-momen kebersamaan saat makan di warung sekitaran gor usai berpeluh ria adu lob, drive, drop shot, netting, dan smash.

Aku juga sempat mengikuti acara mabar di Jakarta dan itu benar-benar luar biasa. Suasana kekeluargaannya sangat terasa di mana masing-masing anggota saling mensupport sehingga tidak ada yang merasa minder meskipun kemampuan bermain bulutangkis mereka beda-beda. Ada yang memang sudah jago selevel atlet pelatnas dan ada juga yang baru belajar servis. Tetapi semuanya berbaur dalam harmoni saling berbagi. Bahkan hingga kini, meski aku tidak sempat lagi bermain bulutangkis atau mengikuti mabar bersama teman-teman di forum ini, aku selalu menyempatkan diri berbagi tawa melalui dunia maya dengan mereka. Forum ini juga menjadi rumah bagiku untuk mengetahui segala berita tentang bulutangkis Indonesia dan dunia. Apalagi ketika sedang berada jauh di negeri seberang dan harus berkutat dengan tugas di lab yang ribet dan kompleks, Buldoc lah yang sering membuatku tertawa dan bahagia.

Seperti kata Syahrini; maju-mundur, maju-mundur: cantik! Forum ini juga begitu, akan selalu luar biasa saat dilihat dari sisi mana pun. Terima kasih Buldoc dan selamat berulang tahun yang ke-5. Semoga Tuhan selalu menjagamu dalam kasihNya dan memberikan kesehatan untuk para admin sehingga forum ini akan semakin berjaya, menjadi kebanggaan para anggota dan bangsa.

6. Bertemu si Bos

by Ilham Fauzi

buldoc 1st meeting

Masih teringat olehku, waktu itu masih awal tahun dan udara sangat panas. Untuk pertama kalinya aku akan bertemu dengan beberapa warga Buldoc di sebuah gedung (kalo gak salah gedung BRI) di daerah Semanggi (?). Dan untuk mencapai ke gedung itu, aku membuat janji untuk bareng kesana bersama si Bos, dan kami janjian di Plaza Semanggi (ingat yah, kami belum pernah bertemu sebelumnya).

Okeh, perjalananku dimulai. Ini adalah pertama kalinya aku menyusuri kota Jakarta sendirian dengan mengendarai sepeda motor. Dan bulan itu pula, SIM ku baru terbit. Motorku juga baru berusia sekitar 2 bulan. Ceritanya, sampailah aku di daerah Gatot Subroto, Woooww, emejing… aku ada ditengah jalan besar. Aku teriak-teriak sendirian di motor! Gak percaya ajah sama diri sendiri, bisa se-nakal ini. Sesampainya di Plaza Semanggi, aku bingung, dimana harus parkir motor. Akhirnya parkir di area parkiran liar yang agak jauh dari Plaza Semanggi (untung ajah waktu itu pak Ahok masih belom jadi WaGub DKI)

Setelah sampai di Plaza Semanggi, aku mulai mencari si bos, telpon-telponan deh kita, si bos bilang klo dia pake baju warna abu-abu dan sedang menungguku di parkiran. Bah, pikiranku langsung terbang jauh “jangan-jangan dia bawa mobil, terus gimana klo dia nyuruh gw nyetir, gw kan gak bisa nyetir”. Wahahahaa…Yasudahlah…
Setelah muter-muter, nanya satpam letak parkiran, akhirnya aku menemukan si bos sedang menenteng sekotak J-co. Wehehehe, ternyata lu kecil yee bos! Well, sekarang kita langsung ke gedung nyook. Kita telepon kawan yang sudah menunggu di gedung BRI, mereka bilang letak gedung BRI nya di seberang Plaza Semanggi, dan mesti naik jembatan bus way untuk menuju kesana. Whaat!!! Aku dan si Bos, belum pernah naik bus way, dan gak ngerti cara masuk haltenya. (nangis berdua)

Tapi kami gak nyerah segampang itu, kami naiki jembatan halte bus way Plaza Semanggi yang panjang dan jauh itu. Hah! Sampai juga akhirnya di atas jembatan busway. Terus kami nanya penjaga busway nya “..mbak, kami mau nyebrang lewat jembatan ini, mau ke gedung BRI..”. dan mbak itu bilang “..gak bisa lewat sini, ini untuk orang yang naik busway, bukan nyebrang..”. Tidaaakkk….!! Masa, kami mesti turun lagi.

Akhirnya, kami terpaksa turun dan kembali ke Plaza Semanggi, terus telepon teman kami yang udah di gedung BRI. Wahh, ternyata kami salah! Bukan itu jembatan penyebrangannya, ada lagi jembatannya di sisi lain. Dan kami pun menuju kesana. Dan tibalah kami di gedung BRI, bertemu teman-teman Buldoc yang lain… horeee…!!
Gak seru yah? Biarinn ahh #IklanMintz
Itulah pengalamanku dengan Buldoc,
Terima kasih, udah buat aku jadi anak yang nakal
Terima kasih, udah buat aku berani naik motor sendirian ke Jakarta
Terima kash, udah buat aku jadi punya banyak teman
Terima Kasih

7. Semua Berkumpul dan Menjadi Saudara Karena Satu Hal, BADMINTON

by Dedi Farizal

Gak akan pernah habis kalo cerita tentang buldoc. Cerita kali ini bertepatan dengan ulang tahun ke-5 dari salah satu grup pecinta bulutangkis ini. Dan, Yogyakarta menjadi kota pilihan kami untuk berkumpul untuk merayakannya. Banyak hambatan yang harus dihadapi, belum berangkat aja kita udah dibuat bingung masalah penginapan, 2 minggu sebelum keberangkatan penginapan udah pada penuh, kami yang dari luar kota cuma bisa berharap bantuan member buldoc jogja yang bantuin nyari penginapan, kasihan juga siiiih sebenernya sama mereka, rela keluar masuk dari satu penginapan ke penginapan yang lain nyoba nanyain apa masih ada kamar kosong, belum lagi cuaca panas jogja yang kebetulan belum kesentuh air hujan, gerahnya minta ampun, untungnya H-3 akhirnya dapat 4 kamar kosong di salah satu hotel dengan asumsi 1 kamar dipake berlima. Gak Cuma itu aja kesulitan yang harus dihadapi, perburuan tiket pun juga jadi cerita tersendiri, hari yang kami pilih untuk berkumpul ternyata bertepatan dengan hari libur nasional, alhasil tiket perjalanan harga murah kebanyakan udah abis. Iya, Sold out gitu kalo bahasa kerennya. Beberapa teman yang kehabisan tiket murah akhirnya milih naik bis, luar biasa kaaaaan loyalitasnya, padahal cuma buat ngumpul bentar tapi rela menempuh perjalanan berjam-jam, belum lagi kalo macet atau resiko bis mogok, di grup lain kayaknya gak akan ada tuh yang kayak gitu.

Hari H, tepatnya tanggal 25 oktober, kami semua datang ke kota Yogyakarta dari daerah masing-masing. Sebelumnya teman buldoc jogja udah ngasih tau dimana letak penginapannya, jadi kita tinggal cari kendaraan aja dari terminal atau stasiun ke penginapan itu. Aku sampai di jogja sore hari setelah menempuh 9 jam perjalanan. Langsung aja aku cari taksi ke penginapan. Sampai di penginapan udah rame banget, maklum lah udah lama gak ketemu, jadi banyak yang mau diobrolin.

DSC06109
Besoknya kami putuskan untuk mabar, gor juga udah dipesan, ada 3 lapangan yang kami booking sekaligus, dari jam 9 sampai 1 siang. Selama mabar berlangsung, bisa dibayangin kaaaan berisiknya kita kalo maen, ada teriakan-teriakan khas kalo udah dapat poin. Tau lah kalian semua kayak gimana model teriakannya itu, haha… belum lagi gaya atau kostum yang dipakai waktu main, pasti sedikit banyak meniru idola mereka, yang ini kalian juga pasti udah pada tau seperti apa gaya mereka. Mabar selesai, lanjut prosesi tiup lilin dan potong kue ultah.
DSC06118

Sebenarnya ada teman yang udah repot2 bikin kue ultah, tapi setelah dibandingkan antara kue buatan dia dengan kue yang beli ditoko terlihat banget ‘perbedaannya’. Kue buatan dia malah jadi bahan guyonan kami semua. Ada yang bilang kue tartnya pake ekstra daun sirih (karna kebetulan kuenya warna hijau gitu), ada juga yang bilang kue buatan dia pake ramuan Madura yang bisa bikin tambah kuat. Walopun kuenya sedikit asin tapi perlu diacungin 2 jempol, udah mau ribet bikin kue trus bawa jauh2 ke jogja dari rumahnya.

Oh iya, makasih juga buat uni yang udah mau kasih sponsor buat beli kue, kuenya cantik banget, sampe gak tega kemaren mau potong kuenya. Itupun kuenya gak abis dimakan, sisanya dihibahkan ke pemilik gor tempat kita mabar. Selesai mabar kita lanjut ke Candi Prambanan, kita putuskan naik trans jogja, tapi karna rombongan kita banyak, jadi gak bisa berangkat bareng2. Aku kebetulan bareng salah satu teman dari medan. Sepanjang perjalanan gak berhenti ketawa gara2 ulah dia, salah satu kejadian yang bikin ngakak waktu dia ngobrol sama seorang ibu penumpang. Dia ditanya “darimana mas?” dia jawab “dari Medan bu. Tapi saya bisa loh bu bahasa Jawa. OPO ORA EMAN DUITE, GAWE TUKU BANYU SETAN” seketika penumpang di dalam bis itu ketawa gara2 ulah dia. Di prambanan pun banyak Kejadian konyol bikin ketawa ngakak. Contohnya teman dari medan itu pas foto bergaya ala2 pemotretan miss internesyenel gitu, trus teman yang dari Jakarta bergaya ala bertarung 2 dewi ular (bisa kalian liat sendiri di laman pesbuk mereka masing2, hehe..).

Menjelang malam kami putuskan kembali ke penginapan. Setelah makan dan mandi, kami lanjutkan keseruan di tempat karaoke. Pas karaoke itu tercipta trio baru, namanya TRIO BOR. Anggotanya terdiri dari pramugari berkaki indah asal medan, atlit badminton spesialis pukulan ngondek, satu lagi atlit badminton bersuara soul RnB. Kombinasi yang seru gak tuh. Mas2 dari jember yang susah ketawa aja sukses dibikin ngakak sama mereka. Segala jenis goyangan mereka keluarkan sampai ada yang naik ke meja di tempat karaoke itu, padahal meja itu dari kaca, untung aja gak pecah. Gak terasa udah setengah dua pagi, suara udah serak badan udah lumayan capek banget, kami balik ke penginapan, apalagi besok jadwal keretaku lumayan pagi.

Besoknya jam 6 pagi aku udah siap pulang, gak lupa sebelum pergi aku pamit ke teman2 yang lain. Suasana pamitan yang kayak gitu biasanya bikin sedih, karna gak tau kapan bisa kumpul seperti itu lagi. 2 hari di jogja lumayan bikin kenangan baru, cerita baru. Badan pegal karna mabar dan perjalanan tak apa, kantong pegal karna habis uang juga tak apa, hati pegal karna bakalan rindu ingin jumpa juga tak apa (yang ini lebay yeee). Karna seperti itulah buldoc, persaudaraan yang timbul bukan karna aliran darah semata. Semua berkumpul dan menjadi saudara karna satu hal, BADMINTON. Semoga grup ini bisa tetap ada sampai anak cucu kita nanti, amin

Aku dan Buldoc (Part 1)

Logo buldoc5th

Dalam rangka meramaikan ulang tahun Buldoc ke 5 yang jatuh pada tanggal 23 Oktober 2014 lalu, admin-admin mengadakan sebuah lomba menulis yang bertajuk “Aku dan Buldoc”. Para peserta diminta untuk menuliskan pengalaman paling berkesan mereka selama bergabung di komunitas ini. Juara 1 diraih oleh Nufus dari Indramayu, Juara 2 diraih oleh Mylla dari Bekasi, dan juara 3 diraih oleh Jun Zayn. Berikut hasil tulisannya.

1. ARTI KETULUSAN DAN PERSATUAN DI TENGAH KEBERAGAMAN by Nufus
Bulutangkis dotcom atau yang akrab disebut Buldoc adalah salah satu grup bulutangkis di media sosial terbaik menurut aku. Di sini terlihat membernya sudah lebih dewasa dalam berkomentar sehingga tidak menyinggung member lain. Walaupun Buldoc adalah sebuah wadah di dunia maya, sehingga para mebernya jarang atau bahkan belum pernah bertemu satu sama lain. Namun, jangan salah, rasa persahabatan bahkan sampai ke taraf kekeluargaan tidak perlu ditanya lagi. Di sini pula aku mendapatkan arti ketulusan sesungguhnya.

Sahabat adalah keluarga yang saling menjaga dan melindungi satu sama lain. Di sini lah yang aku maksud sebagai arti ketulusan yang sesungguhnya. Para member selalu ikhlas jika dimintai pertulongan dan selalu total dalam memberikan apa yang dibutuhkan. Contoh jika ada member yang berkunjung ke suatu daerah, maka member yang berdomisili di daerah tersebut dengan senang hati menyambut member tamu dengan sambutan dan keramahan yang tulus, tidak ada satu paksaan pun. Ini lah yang dinamakan keluarga, karena secara tidak sadar hati setiap member akan tergerak untuk berbuat baik secara spontan, karena sekat-sekat tersebut sudah hilang dengan adanya ketulusan. Bahkan yang demikian jarang ditemui di kehidupan nyata. Padahal Buldoc awalnya hanya sebagai grup di dunia maya, tapi rasa kekeluargaannya bisa melebihi dunia nyata.

Yang tak kalah penting lagi dalam suatu komunitas adalah adanya keberagaman. Walaupun tidak tau persis pribadi para member aslinya. Namun sepertinya memang tingkah lakunya sangat beragam. Ada yang selalu berkomentar serius, ganjen, geje, alay, ngondek, bijaksana, ceria, bahkan binal yang bisa menimbulkan aksi becek atau banjir bandang pun (apaini?) bisa ditemui di Buldoc. Dengan keberagaman ini pula Buldoc menjadi berwarna dan selalu memberikan keceriaan pada siapa pun. Itung-itung ibadah karena membuat bahagia orang lain.hehe…. Tapi jangan salah, meski para member aktif di sosial media, prestasi mereka juga tak kalah menterengnya dan juga pintar-pintar. Salah satu buktinya banyak artis yang berasal dari jebolan Buldoc, sebut saja Agnes Monica, Poppy Bunga, Donita, Maria Selena, Princes Syahrini, Pamela, dll. Walaupun artis-artis yang disebutkan diatas adalah artis KW versi Buldoc (baca: ngaku-ngaku mirip artis diatas).. hihihi. Bahkan salah satu artis dan lagunya pun bisa terkenal dan naik daun gara-gara Buldoc, sebut saja Ibu Beel Sepanjang Masa, Nikita Willy lewat single “Penantian Panjang’ nya. ku akan menanti

Itulah segelintir prestasi member Buldoc dan sebetulnya masih banyak prestasi lain, kalau ditulisin semua nggak bakalan cukup berroo , walaupun tingkahnya beraneka ragam, namun rasa kekeluargaan tetap terjaga. Di sini lah aku bisa mengibaratkan Buldoc dengan istilah “Bukti Nyata Adanya Persatuan di tengah Keberagaman.”
^^^ Selamat Ulang Tahun Buldoc ku… moga jangan putus silaturrahmi ^^^

2. Kehangatan We are Family Buldoc by Mylla
Pengalaman mengesankan pertama kali adalah ketika aku ikutan Buldoc Olympic Game (BOG). Di BOG aku bergabung ke dalam salah satu grup yang kecee abisstt. Di BOG ini selain membutuhkan pikiran kaya game-nya mbak Putri yg game detektif, tapi juga membutuhkan wawasan yang luas. Ga hanya wawasan ilmu pengetahuan aja tapi juga wawasan di luar logika yang sampe buat tumpeh-tumpeh saking di luar dugaannya hahahaa (red: game-nya kani). Dari situlah aku mulai kecanduan ngomen di buldoc fb sampe harus belajar bahasa warior karena di sana ngetren sekali bahasa warior hahaha..

Pengalaman mengesankan selanjutnya pastinya bertemu beberapa member buldoc dari penjuru nusantara di kehidupan nyata. Dari hanya sekadar komen-komenan di fb yang menumpahkan segala unek-unek tentang bulutangkis hingga bisa memiliki rasa tali persaudaraan yang kuat saking kuatnya sampai-sampai ketika berpisah itu rasanya sedih banget, susah move-on bhoo :’(. Itulah pengalaman yang paling mengesankan selama bergabung di buldoc.
Awal mula bertemu ketika mabar dari situlah mulai muncul sifat asli mereka. Ada yang di fb-nya cerewet ternyata di kehidupan nyatanya pendiam dan juga sebaliknya, serta ada juga yang di fb dengan di kehidupan nyatanya sama-sama cerewet. hahahaa. Kemudian diikuti nonton bareng Indonesia open. Di sinilah pemersatu pencinta bulutangkis bersatu terutama member-member buldoc. Teriak-teriakan dukung atlet Indonesia sampai ada yang membentangkan spanduk mars beel (ku akan menanti meski harus penantian panjang), spanduk itu sukses menjadi perhatian para beel-beel di sana hahahaha.

Yang aku salut adalah member-member buldoc yang dari luar Jakarta, ketika musim Indonesia Open jadi tumplek di istora. Mereka bela-belain dari penjuru nusantara datang ke Jakarta tujuannya selain menonton atlet kebanggaannya main tapi juga mereka ingin berkumpul dengan member-member buldoc, ingin juga merasakan kehangatan “we are family-nya buldoc” dan aku pun juga pernah bela-belain melakukan perjalanan yg aku rasa cukup jauh sampe harus nginep2 hanya untuk ingin berkumpul dan menonton bulutangkis bersama mereka.
Selamat ulang tahun Buldoc yang ke-5 semoga walaupun beberapa di antara membernya sudah mulai sibuk tapi semoga buldoc masih akan terus eksis di dunia perefbian. “We are Family Buldoc”

3. Tau Buldoc dari F2F by Jun
Jadi gini, awalnya aku tau Buldoc itu dari F2F.. tau kan F2F?? kalo ga tau biar aku kasih tau yah, heheheh..
F2F itu friend to friend, ya jadi intinya grup Buldoc aku tau dari mulut yg satu ke mulut lainnya.. tapi berhubung ini dumay, bukan mulut dibilang, tapi tangan (emang kaki bisa ngetik?? abnormally)
Sebenarnya aku udah lama banget incar grup Buldoc loh, sejak tahun 2012 akhir.. tp ya itu, sulit buat masuk

Hingga akhirnya aku ngemis-ngemis ke admin, bahkan ga tau lagi mau ngapain buat masuk (lebay mode on), nah pas moment tepat (si admin lagi ol) aku langsung tembak dia (doooorrrrr).. masuk deh.. \M/
Gabung di Buldoc itu resminya september 2014, ya masih dibilang member fresh lah, ga tua-tua seperti kebanyakan member disana (sungkem).. Grup Buldoc itu paket complete kalo bisa dibilang yah, ragamnya banyak banget disana.. mulai dari promo peralatan badminton, informasi-informasi seputar badminton, kuis badminton, sampai ajang rumpikers disitu tersaji.

Favorit ane di grup Buldoc itu informasinya si Akmal yah, yang tiap hari beri informasi-informasi dari berbagai sumber terpercaya buat dibaca. Diteliti, ditelaah, bahkan diabaikan wkwk..
Ya karena masih baru, pengalaman berkesan belum terlalu banyak, paling waktu perkenalan member aja, awalnya nyangka bakal sombong-sombong eh ternyata low profil semua xixixixixi..
Aku juga pantau berbagai masukan, kritikan di fordis Buldoc, walau hanya mampir sesaat kadang suka stress sendiri baca-baca komentar-komentar disana yah, apalagi si @ngakak jadi bulan-bulanan wkwk..

Sri Fatmawati, Putri Desa Jadi ‘Sri’kandi Muda

Gambar

Tulisan oleh: Mylla Galanry

Sri Fatmawati, mungkin banyak yang belum mengenal Atlet kelahiran 7 Juni 1999 ini. Ia memulai kariernya di bulu tangkis ketika ikut melihat saudaranya bermain bulu tangkis di desanya. “Dulu sih tau bulu tangkis dari lihat saudara main. Terus lama-lama suka dan ikut main juga”, kenang Sri.

Atlet asal Desa Tamansari Kecamatan Dringu Probolinggo ini mulai bermain bulu tangkis dari umur 6 tahun. Orang tuanya sangat mendukung ia menekuni dunia bulu tangkis. Lalu ia dimasukan ke Abadi Badminton Club di Problolinggo. Dari sanalah Sri dibina mulai dari nol hingga bisa masuk ke Platcab Abadi Probolinggo sebagai 7 atlet terbaik Se-Kabupaten Probolinggo.

“Saya merasa bangga melatih Sri dari yang belum bisa mukul dan akhirnya bisa membanggakan. Dia anak yang nurut saya yakin pasti dia bisa berprestasi lebih baik lagi. Platcab Abadi Probolinggo memang menyaring 7 atlet terbaik daerah untuk bisa masuk dan diikutkan pada kejuaraan-kejuaraan nasional, terutama Sirnas”, ujar Isye pelatih dari Sri.

Dengan perjuangan keras, atlet yang terdaftar sebagai Siswi Kelas 8 di SMP 2 Dringu ini, akhirnya menuai prestasi. Pada tahun 2013 ia berhasil menjuarai 4 dari 6 sirnas yang diikuti. Torehan prestasi pun dipertahankannya sampai pertengahan tahun ini. Terbukti atlet yang mengidolakan Susi Susanti ini, berhasil menjuarai Sirnas Makasar dan Walikota Cup di Surabaya dengan mengalahkan pemain unggulan Jepang, Nidaira Natsuki.

“Target Sirnas ini sih ingin juara, tapi berusaha tampil maksimal dulu di setiap pertandingannya”, ujar atlet yang berangkat dari Probolinggo hanya ditemani satu pelatih saja. (MLA).